Majalengka – Taun Baru Imlek memang ada kaitannya dengan etnis Tionghoa. Tapi Imlek tidak ada kaitannya dengan agama. Imlek itu hajat buminya orang Tiongkok, menyambut musim bercocok tanan atau berladang setelah musim dingin diganti musim panas. Di musim dingin, lahan pertanian ditutupi oleh salju sampai para petani di Tiongkok tidak bisa bertani.
Dalam Imlek petani Tiongkok selain merayakan dengan beragam acara, juga di malam Tahun Baru Imlek berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Syukuran karena sudah memberikan kehidupan, dan berdoa supaya kehidupan di tahun yang akan dijalani lebih baik dari sebelumnya. Ini jadi pendorong semangat untuk petani dalam mengolah lahan pertanian.
Orang Tiongkok dalam merayakan Imlek suka mudik pulang ke kampung halamannya, ke tempat kelahirannya dan dibesarkan atau berkunjung ke tempat tinggal leluhurnya. Mengunjungi makam leluhurnya, lalu suka berbagi angpau kepada keluarganya yang masih tinggal di daerahnya.
Saat ini Imlek bukan saja dirayakan oleh para petani, tapi oleh orang Tiongkok yang pekerjaannya bukan sebagi petani. Yang merayakannya dari semua lapisan masyarakat. Selain itu dirayakan oleh orang Tiongkok yang tinggal di negara lain, meskipun di negara tempat tinggalnya tidak ada musim salju seperti di Negara Republik Indonesia.
Karena lmlek tidak ada kaitannya dengan agama, orang Tiongkok yang sudah memeluk agama lainnya, seperti agama lslam dan Nasrani suka merayakan lmlek. Rumahnya dihias dengan dominan warna merah. Memasang lampu lampion. Bahkan memasang lukisan atau vinyet ular naga dan sebagainya.
Di kita juga, ujar Rika Hasanah Damayanti Liem (Rika HD Sambara) alumnus Prodi TV & Film Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, orang Tiongkok yang sudah memeluk agama Islam suka merayakan Imlek.
“Muslim Tionghoa diperkirakan sudah ada di Indonesia mulai pertengahan abad ke-15,” ucap Sutradara yang menekuni garapan iklan di ‘Kota Kembang’ Bandung dan ‘Kota Metropolitan’ Jakarta.
Komunitas Muslim Tionghoa juga saat ini sudah bertambah. Meskipun sudah berpindah keyakinan, sebagai etnis Tionghoa di lndonesia tetap merayakan Tahun Baru lmlek. Meskipun begitu, perayaannya ada yang beda. Yang bedanya dalam hal berdoa, tentu saja tidak di Klenteng.
“Berdasarkan tradisi Imlek untuk warga muslim etnis Tionghoa, mualaf di lndonesia tidak memiliki acara khusus yang ada kaitannya dengan ritual keagamaan selama perayaan lmlek,” ujar Rika Sutradara Film Gemerincing Kedempling. Di agama lslam berdoa bisa dilakukan di mana saja termasuk di rumah.
Muslim etnis Tionghoa tidak membakar hio dan menyediakan sesajen. Muslim etnis Tionghoa merayakan Tahun Baru China atau imlek digelar secara sederhana, seperti makan bersama dan bersilaturahmi.
“Imlek memang benar tidak ada kaitannya dengan agama apalagi dengan kepercayaan,” kata Rika yang namanya mulai diperhitungkan di kalangan Sineas muda, karena garapan Filmnya masuk nominasi FFI, yaitu ‘Salam dari Anak-anak Tergenang’ dan ‘Dilarang Gondrong’.
Bagaimana perayaan lmlek yang dilaksanakan mayarakat muslim Tionghoa di Indonesia ? Menurut Rika Liem, rangkaian kegiatan yang dilaksanakan tentunya tidak seperti yang memeluk agama Konghucu. Malam lmlek, muslim Tionghoa setelah sholat Isya, ditambah sujud syukur. Setelah itu baru sekeluarga makan bersama sebagai wujud rasa syukur serta kegembiraan.
“Tahun Baru lmlek biasanya identik dengan menempelkan dekorasi yang dominannya merah, memberi angpao, pertunjukan barongsai, makan kue keranjang. Muslim Tionghoa juga begitu, tidak lupa juga kartu ucapan Selamat Tahun Baru lmlek 2026 yang biasa diberikan oleh keluarga, padangan, rekan kerja, serta dengan yang sudah akrab,” ucap Rika Liem.
Apa artinya lmlek ? “Imlek asalnya dari dua kata : im yang artinya Bulan dan lek yang artinya penanggalan. Dalam hal ini Imlek artinya penanggalan berdasarkan rotasi Bulan. Imlek itu kalender lunar beda dengan kalender Masehi yang berdasarkan Bumi mengelilingi Matahari,” ujar Rika Liem yang sering menyantuni anak balita di sebuah Yayasan di Kota Bandung.
Kalender lunar untuk orang Tionghoa dan keturunannya disebut juga nongli atau kalender pertanian. Dikarenakan di negara Tiongkok ada empat musim: musim gugur, musim dingin dan musim semi serta musim panas, bertani dimulai setelah selesai musim dingin, dilanjutkan di musim semi, serta mulai menanam di musim panas.
Rika menambahkan, perayaan lmlek itu perayaan untuk masyarakat yang teguh memegang aturan kepada kalender im atau kalender lunar, bukan berdasarkan agama atau kepercayaan.
“Sekali lagi lmlek dirayakan oleh semua etnis Tionghoa, tidak terbatas oleh agama serta kepercayaan. Apa pun agama orang Tionghoa merayakan lmlek,” pungkasnya.
- AYANK R SAMBARA
Komentar Terbaru